Secangkir Teh
Sore ini, aku duduk termangu di teras rumah, menatap matahari yang akan
segera tenggelam dan berganti gelapnya malam. Sekarang pukul 16.50. Aku masih
menunggu air yang kurebus, untuk menyeduh teh, mendidih. Aku terbayang akan
masa “putih abu-abu” ku yang tak terasa akan segera berlalu. Hanya tinggal
hitungan bulan lagi dan semuanya akan berbeda, tak akan sama lagi. Aku akan
segera dihadapkan dengan kehidupan yang lebih keras dan lebih kejam lagi. Tak
peduli seberapa besar pun usahaku untuk menunda datangnya waktu itu, ia selalu
memiliki kekuatan yang lebih hebat untuk datang menyergapku. Ibuku pernah
berpesan: “Kamu harus siap. Apapun yang terjadi, terjadilah. Hadapilah.”
***
Beberapa hal yang kualami terasa bak mukjizat bagiku. Sewaktu aku
mendaftar ke SMP favorit di kotaku, aku tidak pernah pernah terbayang akan
mampu menjadi salah satu peserta didik di sana. “Bu, aku ingin mencoba. Aku
tetap ingin. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, aku juga tidak terlalu
berharap bisa lolos. Kalau nanti peringkatku jelek, aku akan mencabut
pendaftaranku dan pindah ke sekolah lain (yang lebih rendah kualitasnya),”
kataku pada ibu saat ia memberiku tawaran untuk memilih sekolah yang lain. Aku
memang pesimis waktu itu. Mungkin karena didikan orangtuaku untuk tidak
berharap terlalu tinggi pada hal-hal tertentu, untuk tetap rendah hati dan
mawas diri. Saat itu, aku sadar aku tidak terlalu pandai. Tetapi, seperti ada
kekuatan lain yang mendorongku untuk tetap mencoba kesempatan itu. Kejadian
yang hampir sama kembali aku alami saat aku mendaftar ke SMA favorit se-kabupaten
tempat aku tinggal.
Kebahagiaan tak terkira memenuhiku dan membuat dadaku terasa penuh
dengan bintang-bintang. Siang itu adalah hari terakhir penerimaan siswa baru
(PPDB) di SMA. Aku merasa was-was meskipun peringkatku tak begitu buruk. Hanya
sedikit kekhawatiran kalau-kalau ada kesalahan, karena aku sangat berharap bisa
diterima di sana. Hingga waktunya pun tiba. Aku merasa bahwa Tuhan memang
selalu menyertaiku. Setiap usaha yang kuiringi dengan doa tak pernah Ia biarkan
begitu saja. Sejak pengalaman di SMP, aku memang sudah mulai pede dengan kemampuan yang aku miliki.
Bukan sombong. Tetapi aku percaya bahwa aku mampu meraih impianku dengan doa
dan memaksimalkan kemampuanku, serta dukungan dari orang-orang di sekitarku.
Hari-hariku berlalu dengan cepat. Tahun pertamaku di SMA ini sudah
hampir terlewati. Aku juga mulai merasakan bahwa tubuhku terlalu lelah untuk
melakukan begitu banyak aktivitas di sekolah. Prestasiku tak secemerlang
sewaktu aku masih duduk di bangku SMP. Tetapi bagiku, prestasi itu hanyalah
salah satu ukuran pencapaian kita dibandingkan orang lain. Memang penting,
tetapi proses juga penting. “Jika aku tidak bisa meraih prestasi seperti yang
diraih orang lain, bukan berarti aku tidak bisa atau aku tidak berusaha. Hanya
saja, itu cara Tuhan menyadarkanku bahwa: sekianlah kemampuanmu, kamu telah
berusaha maksimal,” pikirku. Berbagai peristiwa menyadarkanku bahwa yang
terpenting bukanlah prestasi yang kita raih, tetapi usaha yang maksimal. Bukan
hanya sekedar nilai yang kita dapat, tetapi kita juga dapat memahaminya. Pemikiran
itu ternyata tak hanya berlaku bagi kehidupan akademikku saja. Dalam kehidupan
sosialku pun hal itu tetap berlaku. Dalam setiap cobaan atau tantangan yang
kita hadapi, bukan hanya tentang bagaimana kita berhasil keluar dari masalah
itu. Tetapi juga bagaimana pemahaman kita tentang masalah itu. Apakah kita
sudah tersadarkan untuk lebih berhati-hati dan melakukan sesuatu dengan lebih
baik, atau malah tidak ada perubahan sama sekali.
***
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku begitu gerimis turun membasahi
tanah di hadapanku. Suasana itu benar-benar sesuai untuk membawaku kembali ke
dalam lamunan dan mengingat kejadian yang lebih melibatkan perasaan. Aku segera
teringat akan pengalamanku menyukai beberapa orang di sekolahku. “Hihihi..,”
aku seketika terkikik mengingat hal itu. Terasa sedikit kikuk untuk mengenang
hal ini, kisah yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan drama-drama yang
pernah kutonton sebelumnya.
***
Hal-hal baru terus terjadi padaku. Ponsel baru, misalnya. Aku begitu
senang ketika akhirnya aku diberi kepercayaan memiliki sebuah ponsel berbasis Android, atau smartphone, jenis ponsel yang sedang populer saat ini. Aku segera
terangsang untuk mencoba aplikasi-aplikasi unik yang sebelumnya hanya bisa aku
lihat saja. Satu hal yang benar-benar aku tanamkan dalam diriku, ponsel itu
jangan sampai merusakku. Benar saja, belum berapa lama aku memakainya, waktu
belajarku sudah mulai terganggu. Tiba-tiba kecanggihan smartphone itu mengalihkan dunia belajarku. Sebagian besar
kegiatanku dengan ponsel itu tak pernah jauh dari ‘obrolan bersama teman’. Ya,
karena memang ponsel itu sudah tidak begitu baik kondisinya karena hanya lungsuran dari kakakku, jadi tidak
banyak hal yang bisa aku lakukan dengannya. Setidaknya itu memberiku peluang
untuk lebih memberikan waktuku pada belajar daripada kepadanya.
Seperti layaknya anak remaja, aku pun mulai merasakan sensasinya
menyukai lawan jenis. Aku pernah mengagumi beberapa orang, aku lebih nyaman
menyebutnya kagum daripada suka (aku takut pada cerita-cerita cinta tak
berbalas, diam-diam suka, bertepuk sebelah tangan, dan lainnya). Orang pertama
yang aku kagumi adalah seorang kakak kelas tampan yang memang menjadi salah
satu idola di sekolahku. Dia cukup terkenal, jadi meskipun tanpa ketampanannya
pun pasti banyak yang mengenalnya. Kagumku hanya sebatas kagum dan mulai sirna
ketika dia sudah lulus dari SMA. Orang yang kedua adalah teman sekelasku. Aku
tidak yakin apa yang membuatku mengaguminya. Dalam beberapa hal, dia memang
menarik, salah satu laki-laki di kelasku yang tampak menarik, apalagi dengan
bakat bermusiknya. Aku memang sedikit tergila-gila dengan orang yang pandai
dalam bermusik, bak pandai menyenandungkan irama-irama alam yang menenangkan.
Hingga akhirnya, kagumku pun hanya sebatas kagum, tak pernah menjadi suka, atau
lebih dari itu. Sikapnya terlalu dingin bagiku, membuatku hanya sampai untuk
berpikir menjadi temannya saja. Dan orang ketiga yang membuatku kagum, adalah
seorang kakak kelas yang tepat satu tahun di atasku. Dia pandai bermusik.
Tetapi kekagumanku sempat terhenti karena niatanku untuk fokus pada sekolahku
dahulu.
Beberapa bulan berlalu, takdir tak terduga terjadi padaku. Hal yang tak
pernah terbayang benar-benar terjadi. Hal yang membuat niatku untuk benar-benar
fokus pada sekolahku, kandas. Hal yang membuatku sedikit kehilangan pikiran
jernihku dan mengalihkan duniaku (lagi). Orang yang aku kagumi ternyata
menyukaiku. Penjelasan yang begitu singkat, dia menyukaiku dan membuatku
benar-benar tidak mampu untuk hanya memfokuskan sekolah tanpa memikirkan
hal-hal lainnya. “Kamu kalau ada yang suka, cerita dong sama ibu. Jangan sampai ibu tidak tahu. Jangan buat ibu
penasaran, hehe,” ledek ibuku setelah melihatku begitu ceria pada beberapa hari
terakhir. “Hehe, ada. Dulu aku yang mengaguminya, sekarang aku tahu kalau dia belum
lama ini menyukaiku. Padahal aku tidak pernah mendekatinya sebelumnya, lho. Mungkin sudah takdir Tuhan, hehe,”
jawabku malu-malu. “Oh, jadi anak kesayangan Ibu ini udah punya pacar ya? Kok
baru cerita sih?” ledek ibuku lagi.
“Eh, bukan gitu, Bu. Baru dekat saja, kok.
Tidak lebih, mungkin belum,” jawabku sambil berharap hal itu akan terjadi.
Aku merasa bagaikan seorang ahli sihir yang kata-katanya dapat menjadi
kenyataan. Tak lama, kami memang tak lagi sebatas teman, tak lagi sekedar
dekat, sudah menjadi lebih dari itu. Namun, untuk meyakini bahwa itu nyata, aku
pun masih antara ‘ya’ dan ‘tidak'. Di satu sisi pun, aku merasa telah melakukan
kesalahan besar. Tetapi di sisi lain, aku benar-benar merasa tak mampu jika
harus melewatkan kesempatan itu. Seperti kata orang, “Masa SMA adalah masa yang
paling indah”. Jadi aku ingin hal ini dapat membuat masa SMA ku benar-benar
indah. Ditambah lagi dengan ponsel baru hadiah dari ibuku, karena ponselku
sebelumnya sudah hampir tidak berfungsi sama sekali.
***
“Nduk, katanya mau bikin teh? Jadi nggak? Itu mumpung ada
air panasnya,” seru ibuku dari dapur yang seketika kembali menyadarkanku. “Ya,
Bu. Sebentar. Makasi,” sahutku. Aku
masih merasa berat untuk mengangkatkan kaki dan membuat teh untuk menemani sore-ku
itu, masih enggan. Tetapi, “Sepertinya melamun waktu gerimis begini, lebih nikmat kalau ditemani
secangkir teh,” pikirku. Lalu aku segera bergegas menuju dapur dan membuat teh
untukku dan untuk ayah, ibu, dan kakakku. “Yah, itu sudah aku buatkan teh
sekalian. Untuk ibu dan kakak juga. Mau diletakkan di meja depan atau di dapur
saja?” tanyaku pada ayah. “Di situ dulu saja, ya. Nanti Ayah ambil. Makasi ya, Nduk,” jawab ayahku. “Sama-sama, Ayah
ganteng, hehehe,” balasku sambil meledek ayah. Ayahku memang lelaki tampan,
“Itulah mengapa dia bisa memiliki anak secantik diriku,” gurauku dalam hati.
Dengan membawa secangkir teh hangat, aku kembali ke teras dan melanjutkan
lamunanku. Senja tinggal beberapa saat lagi. Ini sudah pukul 17.00. Beberapa
hari ini matahari memang tenggelam lebih cepat. Pukul 17.15 saja sudah terasa
gelap. Aku menyeruput tehku, lalu kembali larut dalam lamunanku.
***
Masa SMA memang begitu indah, sehingga ia harus berlalu begitu cepat.
Belum berapa lama aku menikmati masa-masa kebebasanku dan kini aku sudah sangat
dekat dengan masa genting sebagai siswa tahun terakhir. Ada banyak hal yang
harus mulai lebih aku perhatikan. Terutama cita-citaku. Sesak hati ini ketika
aku merasa aku masih bingung harus melanjutkan kemana, seperti tak tahu arah
tujuan hidupku. Aku harus mempersiapkan segala hal untuk hal yang bahkan belum
aku ketahui. Di tahun terakhir ini, aku sudah meniatkan diri untuk menambah
waktu belajar dan mengurangi gangguan-gangguan lain. Hanya 2 hal yang sulit aku
hindari, ponselku dan kekasihku (aku tidak tahu harus menyebutnya apa lagi).
Aku hanya menjaga agar kedua hal itu tidak terlalu menggangguku.
Aku mulai berpikir, apa yang selama ini telah aku lakukan, mampu
membuatku meraih impianku yang tinggi itu? Apakah mukjizat itu bisa kembali
terjadi padaku? Apakah aku sudah melakukan usahaku yang maksimal? Apakah aku
sudah selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam tiap usahaku? Berjuta
pertanyaan seketika memenuhi kepalaku. Membawaku kembali pada senja ini.
***
Aku kembali pada senja ini, di teras yang halaman di depannya telah
basah oleh gerimis sejak beberapa menit lalu dan memberi aroma yang
menyenangkan. Sekarang sudah pukul 17.15, matahari sudah benar-benar hampir
menghilang, hampir benar-benar menjadi malam. Aku kembali menyeruput tehku yang
masih hangat. Berharap menemukan ketenangan dan petunjuk, ke mana aku harus
melanjutkan hidupku setelah lulus dari masa “putih abu-abu” ini. Aku sama
sekali belum menemukan petunjuknya. Tetapi aku mendapat ketenangan dari teh
itu. Ketenangan yang memberiku keyakinan bahwa Tuhan sudah menyiapkan rencana
besar-Nya untukku. Seperti kata ibuku, yang bisa aku lakukan hanyalah melakukan
usaha maksimalku yang terbaik. “Kamu harus siap. Apapun yang terjadi,
terjadilah. Hadapilah.” Aku pun beranjak dari kursiku, berdiri dan tersenyum
menatap matahari yang baru saja lenyap dari pandanganku, sambil memegang
cangkir tehku. Aku tersenyum pada-Nya. Lalu aku berbalik dan segera
melangkahkan kaki masuk ke istanaku.
***
Selamat menikmati cerpen saya :)
BalasHapus