Entri Populer

Selasa, 14 Februari 2017

The Real Valentine: Ini Caraku Melihat Perayaan Valentine

Bukti Kasih untuk Sesama: Kado dari Seorang Tukang Ojek di Hari Valentine

“Valentine? Aku sih No!”
“Yuk rayain Valentine!”
“Happy Valentine!”

Banyak pendapat tentang hari dan perayaan valentine tahun 2017 ini. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tulisan ini bukan untuk mengkritik atau pun menentang mereka yang kurang menyetujui perayaan di hari valentine atau pun mereka yang merayakannya (dengan agak berlebihan).
Sore ini, sekitar pukul 16.30 WIB, saya memutuskan untuk pergi mengambil fotokopian meskipun dilingkupi mendung yang gelap. “Takut besok gak buka, kan libur nasional.”  Saya melaju menuju ke tempat fotokopian tersebut, letaknya di dekat perempatan Fakultas Teknik UNY. Sekitar 50 meter sebelum perempatan, macet! Kabarnya daerah ini memang sudah biasa macet. Tapi ini kali pertama saya mengalaminya langsung. Orang-orang juga terlihat tidak sabar untuk segera terbebas dari belenggu antrian karena macet itu. (Termasuk saya sendiri. Hahaha)
Setelah perjuangan melewati antrian mobil yang cukup panjang (motor masih cukup lancar untuk melaju hingga perempatan tersebut), ada hal menarik yang saya lihat. Seseorang sedang berusaha mengurai kemacetan tersebut. Dia berusaha tetap sabar di tengah hiruk pikuk jalanan. Meskipun hari semakin petang, dan mungkin kantongnya belum semakin tebal, dia tetap memberikan waktunya untuk membantuk para pengguna jalan yang terjebak kemacetan di perempatan tersebut. Lalu, dia itu siapa? Polisi? Satpam? Petugas khusus? Bukan. Dia seorang tukang ojek. Berkat bantuannya, saya pun berhasil menyeberang jalan yang begitu ramai sore tadi.
Sesampai di tempat fotokopi (yang letaknya di salah satu pojok perempatan itu), saya masih sempat melihat tukang ojek itu. Dia belum pergi. Hingga saya selesai melakukan “transaksi”, dia pun belum pergi. Masih bertahan di tengah orang-orang yang mungkin jadi tak sabar karena terburu-buru dikejar waktu. Bahkan hingga saya memutuskan untuk pulang melaui jalan yang lain, kemacetan itu belum usai. Dan saya rasa, “urusannya” juga belum usai.
Selama perjalanan pulang, saya masih terbayang peristiwa itu. Dan seketika teringat, sekarang tanggal 14 Februari 2017. Terus memangnya kenapa? Bagi beberapa orang mungkin ini hari yang biasa, taka da yang istimewa. Tapi bagi khalayak umum di seluruh dunia, kita ketahui bahwa hari ini biasanya dikenal sebagai hari Valentine! Ya, hari kasih sayang. Hari menunjukkan kasih sayang.
Kembali ke pernyataan saya sebelumnya, banyak pendapat tentang hari Valentine ini. Setuju dan tidak setuju, suka dan tidak suka, dan lain sebagainya. Saya pun sebenarnya biasa saja dengan hari Valentine ini. Karena kasih sayang tidak hanya ditunjukkan saat hari kasih sayang, atau hari ibu, seperti kebahagiaan yang tidak hanya saat hari ulang tahun, atau saling memaafkan saat hari lebaran. Saya tidak akan memberikan pendapat tentang setuju atau tidak tentang perayaan hari Valentine, setiap orang memiliki pandangan dengan alasannya masing-masing. Tapi saya ingin melihat makna dari hari Valentine ini sendiri. Hari menunjukkan kasih sayang. Tukang ojek itu, dia akui atau tidak, disetujui masyarakat atau tidak, menurut saya, dia telah menunjukkan “kasih sayangnya” untuk lingkungannya. Dia menunjukkannya dengan kepedulian dan kerelaan memberikan tenaga, pikiran, dan waktunya. Waktu, adalah hadiah terbaik bagi siapa pun, karena setelah diberikan ia tak bisa diambil lagi. Menurut pandangan saya, tukang ojek ini mengajarkan bahwa hal terbaik untuk diberikan sebagai wujud kasih sayang bukanlah barang, tapi waktu, tindakan.
Mungkin kejadian tentang “orang-orang” yang rela memberikan “dirinya” untuk orang lain ini bukanlah kali pertama dan tidak di hari Valentine saja. Tetapi kejadian ini jadi lebih istimewa ketika terjadi di hari kasih sayang ini. Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan pendapat “mari tanggapi makna Valentine secara berbeda”. Jangan hanya terpaku pada tradisi yang mungkin memang tidak sesuai dengan budaya ke-Indonesia-an. Manfaatkanlah untuk mewujudkan Valentine yang benar-benar “nyata”.
*** 


Ps: Para pembaca mungkin tidak langsung percaya pada cerita tukang ojek tersebut. Ya, no picture = hoax. Tapi ini benar-benar terjadi. Mereka yang melintas di perempatan tersebut sekitar pukul 16.30 pasti melihatnya. Dan sekali lagi, tulisan ini hanya sekedar sharing dari pengalaman dan pemikiran pribadi saya tentang hari Valentine (yang katanya hari kasih sayang) yang saya kaitkan dengan kejadian yang saya alami.